Ruang publik itu ada di gereja Pugeran

Oleh A Fajar Riyanto[1]
Gereja merupakan media komunikasi antara umat khatolik dengan Sang Maha Pencipta, dan menjadi tempat untuk mencari secercah kesejukan yang memerdekakan iman. Secara sekilas, bangunan Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus (GHKTY) Pugeran   baik fisik maupun fungsinya, tidak jauh berbeda dengan dengan kebanyakan gereja – gereja lain, kokoh, megah dan terlihat meriah ketika madah pujian dinyanyikan dalam perayaan Ekaristi. Menurut fakta sejarah, GHKTY Pugeran mempunyai peran penting dalam perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. GHKTY Pugeran pernah dijadikan tempat persembunyian dan perlindungan bagi penduduk yang terancam oleh keberadaan penjajah pada waktu itu. Masyarakat pada waktu itu merasa sangat nyaman dan aman apabila berada di lingkungan gereja. Para penjajah pun tak bisa semena – mena begitu saja ketika berada di dalam lingkungan gereja ini.
Kalau diperhatikan kulturnya, gereja ini tergolong gereja yang “njawani”[2] di tengah – tengah sebuah modernitas. Sebagai contoh: masih adanya perayaan ekaristi yang mengunakan bahasa jawa dan dengan iringan musik gending. Itu merupakan sebuah bukti bahwa gereja ini mempunyai perhatian khusus dalam nguri – nguri kebudayaan. Gereja yang mempunyai perhatian yang sama sudah jarang kita temui di masa modern ini, apalagi gereja – gereja yang masih mengunakan alat – alat musik tradisional.
Bila kita menengok lebih dalam tentang gereja ini, kita akan menemukan hal yang menarik di dalam gereja. Terdapat sebuah karakteristik unik, yaitu ketersediaannya ruang publik. Padahal kita tahu, sebuah ruang publik seperti taman kota, lapangan, trotoar sudah jarang kita temui di tengah geliat modernitas. Hal itu tidak lagi dianggap penting dan keberadaanya sudah disalahgunakan. Yang menjadi keprihatinan adalah dengan mengatasnamakan modernitas, ruang publik tersebut di obok – obok serta disulap oleh para pemilik modal menjadi sebuah ruang privat seperti mall, apartemen, pusat perdagangan dan sejenisnya. Padahal dengan minimnya sarana ruang publik yang tersedia bagi masyarakat dapat mengakibatkan terciptanya sebuah sikap individualis. Hal itu dikarenakan tidak terjadi sebuah proses komunikasi sosial secara langsung  antar individu. Sedangkan ruang publik merupakan sebuah tempat yang dapat diakses baik secara fisik maupun secara visual oleh masyarakat umum dan dapat menciptakan ruang komunikasi (dialog) antar individu.
Ruang publik yang tersedia di GHKTY Pugeran selama ini telah dapat menjadi sebuah jembatan terciptanya kedinamisan sosial antara gereja, umat dan masyarakat umum. Hal itu terbukti dengan banyaknya bermuculan komunitas – komunitas yang berbasiskan kemajemukan dan pluralisme yang berasal dari luar gereja maupun dari kalangan dalam gereja sendiri. Mereka memanfaatkan gereja ini sebagai tempat untuk berkegiatan komunitas. Sebagai contoh adalah komunitas “Ngisor Sawo”, komunitas “Skateboard”, komunitas “Futsal”, komunitas “Muda – mudi Katholik” dan sejenisnya. Beberapa komunitas tersebut memanfaatkan lingkungan gereja mulai dari halaman depan sampai halaman belakang untuk kegiatan. Misalnya: komunitas “Ngisor Sawo” selalu setia memanfaatkan halaman depan sebagai ruang berkegiatan dan berdiskusi, bahkan mereka juga secara sadar untuk ‘menggarap’ taman disekitar gereja. Hal ini dilakukan dengan harapan agar terlihat lebih sejuk. Untuk komunitas Skateboard dan Futsal saling berbagi di halaman parkir belakang sebagai tempat aktifitas. Sedangakan komunitas – komunitas yang berasal dari gereja sendiri lebih sering memanfaatkan teras disamping gereja untuk berkumpul, bernyanyi serta berdiskusi bersama. Selain itu, dapat ditemuni juga masyarakat sekitar yang memanfaatkan dengan dengan cara lain. Ada yang mengajak anaknya untuk  bermain sambil makan sore atau hanya sekedar untuk menenangkan tangis anaknya bahkan ada yang secara khusus memanfaatkan halaman gereja untuk melatih anaknya naik sepeda.
Apabila kita lihat ke sisi luar pagar gereja, para pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di sekitar area gereja (jalan bantul) pun mengalami dampak dari keberadaan gereja. Mereka menggantungkan keberlangsungan produktivitas usahanya di gereja. Mereka selalu memanfaatkan sumur yang ada di depan gereja tanpa dipungut biaya sedikitpun. Keberadaan berbagai komunitas itu bisa kita kaitkan pula dengan keamanan gereja. Keberadaan mereka merupakan modal keamanan bagi gereja ini. Secara tidak langsung dengan adanya komunitas ini yang telah menjadi bagian gereja, akan menciptakan situasi dan kondisi menjadi aman. Mereka merasa bertanggung jawab pula atas keberadaan gereja karena hubungan kesalingan. Disamping itu keberadaan mereka membuat suasana yang lebih ‘hidup’ bagi gereja itu sendiri.
Dengan kondisi gereja yang begitu terbuka dan dapat diakses oleh siapa saja membuat GHKTY Pugeran mempunyai sebuah kedekatan emosional dengan berbagai elemen masyarakat dan hubungan yang sinergi. Kondisi seperti inilah, merupakan sebuah kondisi yang sangat ideal bagi GHKTY Pugeran dalam hal dinamika kegiatan dilingkungan gereja. Gereja ini dijamin tidak akan pernah sepi dari aktifitas – aktifitas para umat dan komunitas yang selalu hadir dan mewarnai gerak langkah dinamis yang tercipta di gereja ini. Inilah yang membuat GHKTY Pugeran mempunyai karakter yang unik dibandingkan dengan gereja lain. Ruang publik yang tercipta di sini memberikan bukti bahwa gereja tidak memandang siapa saja dengan latar belakang sosial mereka untuk mendapat kesempatan berekspesi dan berkegiatan di dalam gereja.
Ruang publik ini merupakan “ekosistem” yang dapat mempertahankan keberlangsungan hidup gereja serta memberikan ruang perubahan peradaban bagi individu – individu. Ini juga menjadi modal sosial untuk terciptanya sebuah keharmonisan dan kedinamisan antar umat beragama. Semoga dengan mengedepankan peran masyarakat dan umat dalam ruang publik di GHKTY Pugeran, gereja dapat hidup berdampingan dengan masyarakat sekitar. Maka, segala permasalahan tentang eksklusifisme agama yang menjadi isu yang mengarah pada perpecahan pun dapat terkikis sehingga cita – cita kesejahteraan yang menjadi harapan bangsa Indonesia dapat terwujud.
Yogyakarta, oktober 2009.


[1] pemuda kampung yang senang merokok.
[2] Kultur Jawa